Politik merupakan puncak kebaikan dan kemuliaan sekaligus
puncak keburukan, kehinaan dan dosa di sisi Allah swt. Jika pelaku
politik berpegang teguh dengan nilai-nilai yang telah digariskan
oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan memperoleh kebaikan dan
kemuliaan yang tidak ada tandingannya. Tetapi sebaliknya, jika
menyimpang dan membuka front dengan ketentuan yang telah ditetapkan
oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah memasuki puncak keburukan,
kezaliman dan dosa yang tiada taranya.
Mengapa? Karena semua aspek ajaran Ilahiyah dan persoalan kehidupan
manusia, duniawi dan ukhrawi, bermuara pada keputusan politik. Oleh
karena itu Allah swt menegaskan kepada Rasulullah saw:
"Wahai Rasul, sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu dari
Tuhanmu, dan jika kamu tidak melakukan berarti kamu tidak
menyampaikan semua risalah-Nya. Allah menjagamu dari bahaya manusia,
sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
kafir" (Al-Maidah: 67)
Ayat ini turun di Madinah, menjelang saat-saat wafat Rasulullah saw.
Dalam sebagian tafsir dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan "mâ
unzila ilayka" (apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu)
adalah masalah politik dan kepemimpinan. Begitu pentingnya persoalan
ini Allah swt menegaskan: Jika kamu tidak melakukan yakni tidak
menyampaikannya, maka kamu tidak akan berguna aspek-aspek yang lain
dari ajaran Islam. Paling tidak, tidak akan sempurna penerapan aspek-
aspek ajaran Ilahi di muka bumi. Tentang bahwa ayat ini turun
berkaitan dengan kepemimpinan dapat kita baca dalam:
Tafsir Ad-Durrul mantsur, Jalaluddin As-Suyuthi, jilid 2 halaman
298. dan tafsir-tafsir yang lain.
Penjelasan ini dikuatkan oleh sejarah kehidupan manusia dari aspek
politik. Kita juga menyaksikan persoalan-persoalan politik dewasa
ini. Betapa banyak kehidupan manusia, khususnya rakyat kecil
disengsarakan oleh para pelaku politik. Negeri yang subur makmur
yang semestinya memberi kehidupan yang sejahtera bagi rakyatnya.
Justru sebaliknya, akibat kezaliman pemimpin yang bekerjasama dengan
para politisi dan pedagang, rakyatnya hidup dalam kesengsaraan. Ini
jelas dan pasti disebabkan oleh kondisi politik.
Ini baru persoalan kehidupan material dan duniawi, belum lagi
persoalan agama, nilai-nilai, mental dan pelaksanaan agama. Belum
lagi pikiran dan prilaku sebagian ulama yang dipengaruhi dan dirubah
oleh para politisi dan pedagang. Yang sebelumnya mereka hidup dengan
penuh keikhlasan dan kezuhudan berdampingan dengan ummat, kini
berubah menjadi materialistik, bangga dengan kemewahan, cinta dunia,
saling berebut kedudukan, dan lainnya. Yang akhirnya mereka jauh
dari ummatnya, asing dengan penderitaan mereka, enggan mendengar
jeritan dan penderitaan mereka. Bahkan tidak jarang di antara mereka
mendekati ummatnya hanya untuk mengambil suaranya.
Tidak perduli dengan penderitaan ummat dan rakyat kecil, apalagi
menyengsarakan mereka dan membelokkan mereka dari ketentuan yang
ditetapkan oleh Allah dan Rasulullah saw, ini adalah perbuatan dosa
yang sulit diampuni bahkan tidak diampuni.
Rasulullah saw berulang kali memperkenalkan kepada ummatnya tentang
sistem politik dan kepemimpinan Ilahiyah. Agar ummatnya tidak
terjerumus ke dalam kesengsaraan, kehancuran dan kehinaan duniawi
dan ukhrawi.
Dampak sistem politik yang zalim
Banyak sekali ayat Al-Qur'an dan hadis yang membicarakan soal
politik dan kepemimpinan, antara lain Allah swt berfirman:
"Apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di muka bumi untuk
membuat kerusakan di dalamnya, merusak tanaman dan binatang ternak,
dan Allah tidak menyukai kerusakan. Jika dikatakan kepadanya:
Bertakwalah kepada Allah, maka bangkitlah kesombongannya yang
menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah baginya neraka Jahannam.
Dan sungguh neraka Jahannam itu adalah tempat tinggal yang paling
buruk." (Al-Baqarah: 205-206)
"Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu daerah, mereka
membuat kerusakan, dan menjadikan penduduk yang mulia menjadi hina.
Demikian juga yang akan mereka lakukan." (An-Naml: 34).
Rasulullah saw bersabda:
"Setiap sesuatu memiliki penyakit yang membinasakan, dan penyakit
agama adalah pemimpin yang buruk." (Nahjul Balaghah, risalah 5)
"Imam Ali bin Abi Thalib (sa) pernah mengirim surat kepada Asy'at
bin Qais:
"Tugasmu bukan hanya untuk makan, tetapi di pundakmu ada amanat."
(Nahjul Balaghag, risalah 2)
Salah seorang Imam dari Ahlul bait Nabi saw berkata:
"Tidak lebih bahaya dua srigala terhadap domba yang terpisah dari
pengembalanya ketimbang bahaya orang yang mencari kepemimpin
terhadap agama seorang muslim." (Safinah Al-Bihar 1: 492).
Menganggap enteng dosa politik
Kita tidak boleh menganggap enteng dosa politik. Antara lain
misalnya mengatakan: urusan politik adalah urusan dunia, bukan
urusan agama, kita lebih mengetahuinya ketimbang Rasulullah saw.
Pernyataan ini memberi peluang besar kepada para politisi yang zalim
untuk memperebutkan suara kita. Kemudian menjadikan suara kita untuk
melakukan kezaliman dan penderitaan rakyat kecil. Jika kita andil
suara dalam kezaliman dan penderitaan ratusan juta manusia dan
rakyat kecil, maka kita telah ambil bagian dalam perbuatan dosa
besar yang sulit diampuni bahkan tak diampuni oleh Allah swt.
Waspadalah terhadap dosa-dosa politik sebelum kita menyesal di
akhirat dan di dalam neraka, sebagimana yang dinyatakan oleh Allah
swt di dalam firman-Nya:
Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan di dalam neraka,
mereka berkata: 'Alangkah baiknya, sekiranya kami taat kepada Allah
dan Rasul-Nya'. Dan mereka berkata: `Duhai Tuhan kami, sesungguhnya
kami telah mentaati pemimpin-pemimpin kami dan pembesar-pembesar
kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)'." (Al-
Ahzab: 66-67)
Sekilas tentang Kepemimpinan Ilahiyah
Tentang kepemimpinan Ilahiyah dan pemimpin yang dikehendaki oleh
Allah dan Rasul-Nya, diisyaratkan oleh Allah swt di dalam firman-Nya:
"(ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa
kalimat, lalu ia menunaikannya. Allah berfirman: `Sesungguhnya Aku
akan menjadikan kamu imam (pemimpin) bagi seluruh manusia. Ibrahim
berkata: `dan dari juga keturunanku'. Allah berfirman: `Janjiku
tidak mengenai orang-orang yang zalim'." (Al-Baqarah: 124).
Ayat ini menegaskan bahwa puncak pemimpin ummat manusia harus
berasal dari keturunan Nabi Ibrahim (as) yang tidak pernah melakukan
kezaliman. Ini telah dibuktikan dalam sejarah kehidupan manusia
bahwa kepemimpinan yang adil berada di tangan nabi Ibrahim (as) dan
para Nabi (as) dari keturunannya. Kita mengetahui dari tarikh
Qur'ani bahwa kepemimpinan mereka ini selalu berhadapan dengan para
penguasa dan raja yang zalim di setiap zaman hingga akhir zaman.
Tentang pemimpin akhir zaman Rasulullah saw menegaskan dalam
sabdanya:
"Barangsiapa yang mati belum mengenal Imam zamannya, maka matinya
mati jahiliyah."
Hadis ini terdapat dalam: (1) Shahih Bukhari jilid 5, halaman 13,
bab Fitan. (2) Shahih Muslim, jilid 6, halaman 21, hadis ke 1849.
(3) Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi, jilid 12, halaman 440. (4)
Musnad Ahmad, jilid 2, halaman 83; jilid 4, halaman 96.
Dalam hadis ini dinyatakan bahwa belum mengenal saja pemimpin di
akhir zaman, diancam matinya jahiliyah. Na'udzu billah. Adapun
siapakah yang dimaksud dengan pemimpin di akhir zaman? tentu
Rasulullah saw telah menyebutkan kreteria dan identitasnya secara
jelas. Mari kita lacak bersama supaya kita tidak mati jahiliyah.
Semoga Allah swt membimbing kita. Amin ya Rabbal `alamin.
politik berpegang teguh dengan nilai-nilai yang telah digariskan
oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan memperoleh kebaikan dan
kemuliaan yang tidak ada tandingannya. Tetapi sebaliknya, jika
menyimpang dan membuka front dengan ketentuan yang telah ditetapkan
oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah memasuki puncak keburukan,
kezaliman dan dosa yang tiada taranya.
Mengapa? Karena semua aspek ajaran Ilahiyah dan persoalan kehidupan
manusia, duniawi dan ukhrawi, bermuara pada keputusan politik. Oleh
karena itu Allah swt menegaskan kepada Rasulullah saw:
"Wahai Rasul, sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu dari
Tuhanmu, dan jika kamu tidak melakukan berarti kamu tidak
menyampaikan semua risalah-Nya. Allah menjagamu dari bahaya manusia,
sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
kafir" (Al-Maidah: 67)
Ayat ini turun di Madinah, menjelang saat-saat wafat Rasulullah saw.
Dalam sebagian tafsir dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan "mâ
unzila ilayka" (apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu)
adalah masalah politik dan kepemimpinan. Begitu pentingnya persoalan
ini Allah swt menegaskan: Jika kamu tidak melakukan yakni tidak
menyampaikannya, maka kamu tidak akan berguna aspek-aspek yang lain
dari ajaran Islam. Paling tidak, tidak akan sempurna penerapan aspek-
aspek ajaran Ilahi di muka bumi. Tentang bahwa ayat ini turun
berkaitan dengan kepemimpinan dapat kita baca dalam:
Tafsir Ad-Durrul mantsur, Jalaluddin As-Suyuthi, jilid 2 halaman
298. dan tafsir-tafsir yang lain.
Penjelasan ini dikuatkan oleh sejarah kehidupan manusia dari aspek
politik. Kita juga menyaksikan persoalan-persoalan politik dewasa
ini. Betapa banyak kehidupan manusia, khususnya rakyat kecil
disengsarakan oleh para pelaku politik. Negeri yang subur makmur
yang semestinya memberi kehidupan yang sejahtera bagi rakyatnya.
Justru sebaliknya, akibat kezaliman pemimpin yang bekerjasama dengan
para politisi dan pedagang, rakyatnya hidup dalam kesengsaraan. Ini
jelas dan pasti disebabkan oleh kondisi politik.
Ini baru persoalan kehidupan material dan duniawi, belum lagi
persoalan agama, nilai-nilai, mental dan pelaksanaan agama. Belum
lagi pikiran dan prilaku sebagian ulama yang dipengaruhi dan dirubah
oleh para politisi dan pedagang. Yang sebelumnya mereka hidup dengan
penuh keikhlasan dan kezuhudan berdampingan dengan ummat, kini
berubah menjadi materialistik, bangga dengan kemewahan, cinta dunia,
saling berebut kedudukan, dan lainnya. Yang akhirnya mereka jauh
dari ummatnya, asing dengan penderitaan mereka, enggan mendengar
jeritan dan penderitaan mereka. Bahkan tidak jarang di antara mereka
mendekati ummatnya hanya untuk mengambil suaranya.
Tidak perduli dengan penderitaan ummat dan rakyat kecil, apalagi
menyengsarakan mereka dan membelokkan mereka dari ketentuan yang
ditetapkan oleh Allah dan Rasulullah saw, ini adalah perbuatan dosa
yang sulit diampuni bahkan tidak diampuni.
Rasulullah saw berulang kali memperkenalkan kepada ummatnya tentang
sistem politik dan kepemimpinan Ilahiyah. Agar ummatnya tidak
terjerumus ke dalam kesengsaraan, kehancuran dan kehinaan duniawi
dan ukhrawi.
Dampak sistem politik yang zalim
Banyak sekali ayat Al-Qur'an dan hadis yang membicarakan soal
politik dan kepemimpinan, antara lain Allah swt berfirman:
"Apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di muka bumi untuk
membuat kerusakan di dalamnya, merusak tanaman dan binatang ternak,
dan Allah tidak menyukai kerusakan. Jika dikatakan kepadanya:
Bertakwalah kepada Allah, maka bangkitlah kesombongannya yang
menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah baginya neraka Jahannam.
Dan sungguh neraka Jahannam itu adalah tempat tinggal yang paling
buruk." (Al-Baqarah: 205-206)
"Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu daerah, mereka
membuat kerusakan, dan menjadikan penduduk yang mulia menjadi hina.
Demikian juga yang akan mereka lakukan." (An-Naml: 34).
Rasulullah saw bersabda:
"Setiap sesuatu memiliki penyakit yang membinasakan, dan penyakit
agama adalah pemimpin yang buruk." (Nahjul Balaghah, risalah 5)
"Imam Ali bin Abi Thalib (sa) pernah mengirim surat kepada Asy'at
bin Qais:
"Tugasmu bukan hanya untuk makan, tetapi di pundakmu ada amanat."
(Nahjul Balaghag, risalah 2)
Salah seorang Imam dari Ahlul bait Nabi saw berkata:
"Tidak lebih bahaya dua srigala terhadap domba yang terpisah dari
pengembalanya ketimbang bahaya orang yang mencari kepemimpin
terhadap agama seorang muslim." (Safinah Al-Bihar 1: 492).
Menganggap enteng dosa politik
Kita tidak boleh menganggap enteng dosa politik. Antara lain
misalnya mengatakan: urusan politik adalah urusan dunia, bukan
urusan agama, kita lebih mengetahuinya ketimbang Rasulullah saw.
Pernyataan ini memberi peluang besar kepada para politisi yang zalim
untuk memperebutkan suara kita. Kemudian menjadikan suara kita untuk
melakukan kezaliman dan penderitaan rakyat kecil. Jika kita andil
suara dalam kezaliman dan penderitaan ratusan juta manusia dan
rakyat kecil, maka kita telah ambil bagian dalam perbuatan dosa
besar yang sulit diampuni bahkan tak diampuni oleh Allah swt.
Waspadalah terhadap dosa-dosa politik sebelum kita menyesal di
akhirat dan di dalam neraka, sebagimana yang dinyatakan oleh Allah
swt di dalam firman-Nya:
Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan di dalam neraka,
mereka berkata: 'Alangkah baiknya, sekiranya kami taat kepada Allah
dan Rasul-Nya'. Dan mereka berkata: `Duhai Tuhan kami, sesungguhnya
kami telah mentaati pemimpin-pemimpin kami dan pembesar-pembesar
kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)'." (Al-
Ahzab: 66-67)
Sekilas tentang Kepemimpinan Ilahiyah
Tentang kepemimpinan Ilahiyah dan pemimpin yang dikehendaki oleh
Allah dan Rasul-Nya, diisyaratkan oleh Allah swt di dalam firman-Nya:
"(ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa
kalimat, lalu ia menunaikannya. Allah berfirman: `Sesungguhnya Aku
akan menjadikan kamu imam (pemimpin) bagi seluruh manusia. Ibrahim
berkata: `dan dari juga keturunanku'. Allah berfirman: `Janjiku
tidak mengenai orang-orang yang zalim'." (Al-Baqarah: 124).
Ayat ini menegaskan bahwa puncak pemimpin ummat manusia harus
berasal dari keturunan Nabi Ibrahim (as) yang tidak pernah melakukan
kezaliman. Ini telah dibuktikan dalam sejarah kehidupan manusia
bahwa kepemimpinan yang adil berada di tangan nabi Ibrahim (as) dan
para Nabi (as) dari keturunannya. Kita mengetahui dari tarikh
Qur'ani bahwa kepemimpinan mereka ini selalu berhadapan dengan para
penguasa dan raja yang zalim di setiap zaman hingga akhir zaman.
Tentang pemimpin akhir zaman Rasulullah saw menegaskan dalam
sabdanya:
"Barangsiapa yang mati belum mengenal Imam zamannya, maka matinya
mati jahiliyah."
Hadis ini terdapat dalam: (1) Shahih Bukhari jilid 5, halaman 13,
bab Fitan. (2) Shahih Muslim, jilid 6, halaman 21, hadis ke 1849.
(3) Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi, jilid 12, halaman 440. (4)
Musnad Ahmad, jilid 2, halaman 83; jilid 4, halaman 96.
Dalam hadis ini dinyatakan bahwa belum mengenal saja pemimpin di
akhir zaman, diancam matinya jahiliyah. Na'udzu billah. Adapun
siapakah yang dimaksud dengan pemimpin di akhir zaman? tentu
Rasulullah saw telah menyebutkan kreteria dan identitasnya secara
jelas. Mari kita lacak bersama supaya kita tidak mati jahiliyah.
Semoga Allah swt membimbing kita. Amin ya Rabbal `alamin.



0 komentar:
Posting Komentar